Jepang Enggan Akui Adanya Ianjo, Penyintas Ianfu Tetap Berjuang Menuntut Permohonan Maaf dan Pertanggungjawabannya

ONIX NEWS – Jugun Ianfu Seihen atau sistem perbudakan seksual yang dilakukan militer jepang saat perang pasifik di tahun 1931-1945. Adanya Jugun Ianfu Seihen ini di utarakan oleh jurnalis Mainichi Shimbun Kako Senda melalui sebuah laporan investigasi berjudul “Jugun Ianfu Seihen” (Military Comfort Women, a True Compilation). Namun hal ini tidak di akui oleh pemerintah jepang serta kelompok sayap kanan yang mendominasi Partai liberal Demokratik (LDP), bahkan mereka mengatakan bahwa hal tersebut hanya khayalan.

Ditahun yang sama yaitu 1978 politikus sayap kanan Jepang Nakasone Yasuhiro melalui memoar bertajuk Owarinaki Kaigun (The Endless Navy) membuat publik Jepang terkejut, karena Nakasone mengakui keterlibatannya dalam pembangunan sebuah ianjo—rumah bordil militer Jepang—kala memimpin pasukannya menduduki Kalimantan. Saat itu Nakasone mengomandani 3000 laki-laki, setibanya di sana beberapa anak buahnya menyerang perempuan-perempuan lokal atau memuaskan diri dalam perjudian.

Laporan Kako bukan satu-satunya yang memojokkan Nakasone. Pada November 2010, koran Asahi Shimbun melaporkan temuan dokumen berkepala “Dokumen Konstruksi Bandara Udara Militer Angkatan Laut ke-2”. Organisasi masyarakat sipil Grass Roots House Peace Museum menyebut dokumen itu menyingkap keterlibatan Nakasone dalam pembangunan ianjo di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Nakasone disebut ikut mendirikan ianjo dan mengumpulkan perempuan-perempuan lokal dengan dalih menenangkan mental bala tentara Jepang.keberadaan Nakasone di Kalimantan makin sahih oleh penelitian Profesor Yoshiaki Yoshimi. Dan sejarawan dari Universitas Chuo itu menjelaskan bahwa Nakasone semula berpangkat Letnan Muda saat ditugaskan ke Davao, Filipina, pada Desember 1941. Setelah Jepang berhasil menguasai Kalimantan pada 24 Januari 1942, Nakasone lalu dikirim ke Balikpapan.

perbudakan seksual oleh militer Jepang saat itu adalah mekanisme yang kejam, dimana menggunakan sistem memaksa perempuan-perempuan Asia dan Belanda menjadi pemuas seksual para pegawai sipil dan personel militer. Hal ini di ungkapkan oleh Teolog dan aktivis Jepang Kimura Koichi.

Namun dengan banyaknya bukti yang sudah ada, Pengadilan Internasional Timur Jauh (IMTF) tetap tak bisa menjerat Nakasone. Bahkan sampai hari ini pun pemerintah Jepang tetap menolak bertanggung jawab atas kejahatan perangnya dalam praktik perbudakan seksual yang menimpa sekira 200.000 perempuan Asia dan Belanda. Nakosone sempat menduduki kursi Perdana Menteri untuk periode 1982-1987.

Mengenai Ianfu ini, banyak dokumen kejahatan selama perang yang dibakar oleh militer Jepang. Namun bukti yang tidak bisa di hancurkan, yaitu Suharti
penyintas sistem ianfu yang pernah disekap dalam ianjo yang dibangun oleh Nakasone pada 1944. Suharti terjebak di salah satu Ianjo selama sembilan bulan. Pada 1944, Suharti saat itu masih berumur 15 tahun dan puluhan perempuan muda sebayanya diambil paksa dari desanya. Kala itu, dua perangkat desa mendatangi rumah orang tuanya dan meminta Suharti “bekerja” untuk Jepang. Ayahnya sempat menolak dengan alasan Suharti buta huruf dan tidak bisa bekerja. Namun saat diketahui ini merupakan perintah Jepang, maka warga desa yang takut dengan kekejaman kenpeitai pun tidak bisa menolak, termasuk orang tua Suharti.

Suharti dan rombongannya lantas diberangkatkan ke Surabaya dengan truk militer Jepang. Setelah menunggu dua hari di sana, mereka dilayarkan ke Borneo dengan kapal kayu bernama Nichimaru. Setibanya di Borneo, kapal Nichimaru hanya menurunkan 14 perempuan termasuk Suharti. Sementara itu, 36 perempuan lainnya melanjutkan perjalanan ke tujuan yang tidak diketahui. Saat itulah mimpi buruk bermula. Suharti dan tujuh temannya lalu ditempatkan di Rumah Panjang yang dijadikan ianjo di pusat Kota Balikpapan. Mereka menyebutnya demikian karena rumah papan yang terlihat baru dibangun itu berbentuk memanjang.

Nama Suharti saat itu berubah menjadi Miki, Suharti hanya bisa pasrah karena tidak kuasa menolak. Melarikan diri pun mustahil karena ianjo dijaga ketat tentara Jepang sepanjang waktu. Setiap hari Suharti dipaksa melayani nafsu belasan laki-laki yang datang. Suharti sudah mati rasa. Situasinya makin sulit menjelang 1945. Ketika berita kekalahan perang Jepang mulai tersiar, pasokan makanan bagi penghuni ianjo pun mulai tersendat. Suharti dan kawan-kawannya pun mulai dilanda kelaparan.

Suasana di luar ianjo juga makin memanas. Siang dan malam tiada hentinya terdengar dentuman bom yang dijatuhkan Sekutu untuk menghancurkan kekuatan militer Jepang di Balikpapan. Sekutu juga melakukan aksi bumi hangus terhadap kilang minyak di kota itu. Dari kamarnya, Suharti hanya dapat melihat asap hitam membumbung tinggi menyelimuti kota yang terbakar dengan perasaan tercekam. Beberapa waktu berlalu hingga penjaga loket Rumah Panjang yang bernama Usman mengabarkan bahwa Jepang kabur ke pedalaman karena dikalahkan sekutu. Mengertilah mereka, mengapa lambat laun para tamu yang biasa datang lenyap bak ditelan bumi. Tinggallah suram menanti mereka yang hidup tersekap di tanah asing.

Suharti lantas memutuskan untuk kembali ke tanah jawa dengan cara apapun, namun itu bukan hal yang mudah. karena ia mendapat info bahwasanya tidak ada lagi kapal laut yang berlayar ke pulau jawa karena adanya peperangan. Namun Suharti tetap nekat dengan memutuskan untuk menempuh perjalanan darat. Sebelum Suharti pergi Usman sempat memberikan sebuah alamat di Telawang untuk dicari setibanya di Banjarmasin. Akhirnya Suharti dan teman temannya menempuh rute Balikpapan-Banjarmasin dengan berjalan kaki, mereka menerobos hutan belantara dan memakan apa saja untuk dapat bertahan hidup.Di beberapa kesempatan rombongan singgah di kampung Dayak. Warga membantu mereka dengan makanan yang lebih layak serta tumpangan menginap. Orang-orang Dayak juga membantu menunjukan arah ke Banjarmasin.

Penderitaan selama perjalanan mereka lalui dengan ketabahan luar biasa. Pada hari ke-52 sejak memulai perjalanan itu, tibalah rombongan Suharti di wilayah Banjarmasin. Mereka juga berhasil menemukan alamat pemberian Usman di Telawang. Tapi, alangkah terkejutnya mereka kala mendapati tempat itu adalah ianjo lainnya. Orang setempat menyebutnya Asrama. Ukurannya bahkan lebih besar dengan 24 kamar untuk para ianfu.Mereka terpaksa kembali jadi budak seks sampai mereka punya kesempatan pergi meninggalkan Kota Banjarmasin.

Di tempat ini, Suharti mengenal Mardiyem, penyintas yang telah berjuang di berbagai forum nasional dan internasional demi menuntut keadilan bagi seluruh korban praktik ianfu.

Jugun Ianfu melibatkan wanita Korea, Cina, Malaysia, dan Indonesia. Adapula beberapa wanita Belanda, Prancis dan Portugis di Indonesia yang menjadi penghuni rumah bordil. Diperkirakan jumlah wanita yang menjadi budak seks sekitar 50 – 200 ribu orang.

Pada 28 Desember 2016 aktivis Korea Selatan menuntut Jepang untuk bertangung jawab secara hukum dan memberikan kompensasi langsung kepada korban perbudakan seks di masa lalu. Sedangkan di Indonesia sendiri, para penyintas yang masih tersisa masih menantikan permohonan maaf oleh jepang. Tak terkecuali Suharti, Suharti berkunjung ke lima kota di Jepang untuk betemu dengan masyarakat Jepang. Pada 2009, dia bahkan mendatangi kantor Nakasone di Sabo-Kaikan, Tokyo. Berkat upaya gigih Kimura akhirnya Suharti berhasil membuat janji pertemuan dengan sekretaris kantor Nakasone. Dalam pertemuan ini, Kimura sebagai juru bicara menyampaikan bahwa Suharti datang untuk mendengar dan menerima permintaan maaf dari Nakasone. Namun, sektretaris Nakasone menanggapi Suharti dengan arogan.

“Perang selalu menginjak-injak hak asasi manusi dan menghancurkan kehormatan perempuan. Jadi kalau dunia ini ikut pada pikiran Pak Kimura, maka banyak orang akan masuk penjara. Jadi kalau menurut Pak Kimura perang menjadi ilegal dan melanggar hukum, maka pikiran ini sangat berbahaya. Saya bukan bermaksud setuju dengan sistem ianfu, tapi saya kira kalau kita mempersoalkan masalah ianfu seperti Pak Kimura, maka masyarakat Jepang akan tergucang dan dunia ini akan hancur.”

Namun dari pertemuan tersebut, Nakasone tak dapat hadir dengan dalih jatuh sakit. Nakasone yang pernah menjadi orang nomor satu di Jepang rupanya tidak berani bertemu muka dengan Suharti yang berkursi roda. Namun menurut Suharti kedatangannya tidak sisa sia, namun Nakasone yang rugi karena membuang kesempatan emas memohon maaf kepada Suharti sampai citra moralnya tidak akan pernah pulih sampai ia mengakui kejahatan perangnya terhadap Suharti dan penyintas ianfu lainnya.

Sumber : tirto.id
editor : Onix Radio